fbpx

LinkedIn, jejaring sosial bagi para profesional, baru-baru ini mengeluarkan penelitian melalui Linkedin Opportunity Index 2018.

Dari hasil survei 11.000 orang di sembilan negara, ditemukan jika pekerja Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai negara yang paling yakin dengan prospek karier mereka dibandingkan pekerja lainnya di kawasan Asia Pasifik.

Pekerja Indonesia juga sangat optimis dengan jenjang karier mereka, peningkatan kemampuan ataupun pengetahuan untuk mengatur keuangannya.

Sedangkan bila di Singapura, Australia, Hong Kong ataupun Jepang, mereka kurang percaya dengan prospek mereka. Banyak dari mereka, mengkhawatirkan prospek ekonomi di negaranya.

Berikut ini sembilan negara survei LinkedIn Opportunity Index 2018:

  1. Indonesia : 116 poin
  2. India : 110 poin
  3. Daratan China : 106 poin
  4. Filipina : 106 poin
  5. Malaysia : 101 poin
  6. Singapura : 91 poin
  7. Australia : 90 poin
  8. Hongkong : 85 poin
  9. Jepang : 79 poin

pekerja Indonesia

Penyebab rendahnya optimisme kerja di negara-negara maju, seperti Jepang, Hong Kong, Australia dan Singapura tak lepas dari angka prospek ekonomi yang rendah.

Dari temuan data IMF (International Monetary Fund) menyebutkan bila Gross Domestic Product (GDP) di Singapura rendah hanya 2,9%, sedangkan Jepang hanya mencapai 1,1%.

Bandingkan dengan Indonesia yang mencapai 5,1% dan India yang menyentuh angka 7,3%.

Hal tersebutlah yang menjadi landasan mengapa pekerja Indonesia dan India memiliki optimisme yang tinggi terhadap kariernya.

Meski begitu, tingginya optimisme tetap diiringi dengan kesulitan-kesulitan yang harus dilalui kala meniti jenjang karier. Tentunya, hal ini tidak berlaku untuk karyawan perkantoran saja, namun berlaku juga untuk pekerja lepas maupun wiraswasta.

Sebanyak 22% responden mengatakan kurangnya mendapatkan akses ke jaringan kerja profesional menjadi hambatan untuk meniti karier, kemudian 19% responden mengeluhkan minimnya lapangan pekerjaan.

Sisanya sebanyak 18% responden khawatir dengan keahlian profesionalnya, dan 18% lainnya tidak punya arahan yang jelas dalam mengembangkan karir.

Lalu bagi pekerja yang terjun di bidang wiraswasta, sebanyak 48% responden mengatakan faktor finansial sebagai ganjalan dalam mengembangkan bisnis, sedangkan 28% responden lainnya merasa sulit mendapat koneksi yang tepat.

Baca juga:

 

View this post on Instagram

 

A post shared by temanSofi (@temansofi) on