fbpx

Mengapa Rupiah Bisa Menguat? Ini Jawaban Sri Mulyani

Mengapa Rupiah Bisa Menguat? Ini Jawaban Sri Mulyani

Mengapa Rupiah Bisa Menguat? Ini Jawaban Sri Mulyani 1281 1000 Gardena Puteri Ayudila

Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat mengalami penguatan sejak awal pekan ini.

Jika dibandingkan sebelumnya, rupiah sempat jatuh di kisaran Rp15.000 per dollar AS, namun sekarang Rupiah menguat di angka Rp14.500-an.

Bagaimana pendapat Menteri Keuangan, Sri Mulyani mengenai penguatan Rupiah ini?

Dilansir dari Kompas.com (09/11), Menurut Menteri Keuangan yang pernah menerima penghargaan sebagai Menteri Keuangan Terbaik di Asia Pasifik Timur dari Global Markets, menguatnya nilai tukar tidak lepas dari pondasi ekonomi Indonesia yang masih sangat kuat.

Hal ini penting untuk terus dikomunikasikan dengan baik agar bisa menumbuhkan kepercayaan pasar terhadap ekonomi RI.

Meski demikian, perempuan yang kerap disapa Ani ini menilai bahwa nilai tukar rupiah akan tetap berfluktuasi seiring sentimen pelaku ekonomi di tengah kondisi ekonomi global saat ini.

Dia berharap, di tengah ketidakpastian itu, para pelaku ekonomi global tetap memandang positif perekonomian Indonesia.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by temanSofi (@temansofi) on

Lantas bagaimana menurut para pengamat ekonomi tentang menguatnya mata uang rupiah dalam dua pekan terakhir ini?

Berdasarkan informasi yang dilansir dari bbc.com (11/9), pengamat menilai tren ini bersifat sementara karena sebagian besar faktor pendorongnya adalah situasi politik dan ekonomi global.

Ekonom dari Samuel Asset Manajemen, Lana Soelistianingsih, menyebut pergerakan positif rupiah dipengaruhi capaian Partai Demokrat pada pemilu sela Amerika Serikat, awal November ini.

Berdasarkan hitung cepat, Demokrat diperkirakan bakal menguasai DPR dan berpotensi mengganjal program dan kekuasaan Presiden AS Donald Trump yang berasal dari Partai Republik.

Sebagai informasi, sekitar 2 minggu menjelang mid term election, Presiden AS Donald Trump menebar wacana untuk memangkas pajak penghasilan individu kelas menengah sebesar 10%.

rupiah

Thinkstocks

Lebih lanjut, jika Trump berusaha mendongkrak perekonomian melalui belanja secara jor-joran, langkah ini kemungkinan besar juga akan dijegal oleh Partai Demokrat. Pasalnya, defisit anggaran di Negeri Paman Sam sudah begitu tinggi. Pada tahun fiskal 2018, defisit anggaran di AS tercatat sebesar US$ 729 miliar, naik 17% dari posisi tahun fiskal 2017, sekaligus merupakan yang terbesar sejak 2012.

Pada akhirnya, perekonomian AS yang kini sedang panas bisa menjadi dingin, sehingga The Federal Reserve/The Fed selaku bank sentral AS tak perlu kelewat agresif dalam menaikkan suku bunga acuan.

Hal ini tentu bukan kabar baik bagi dolar AS. Selama ini persepsi kenaikan suku bunga acuan AS yang lebih agresif memang selalu menjadi bahan bakar penguatan greenback.

Faktor lain yang memperkuat rupiah juga adalah rencana pertemuan AS dan Cina pada KTT G20 di Argentina, Jumat waktu setempat. Wacana itu disebutnya berpeluang meredakan perang dagang antara kedua negara tersebut.

Baca juga:

https://www.sofi.co.id/?utm_source=blog&utm_medium=banner-footer&utm_campaign=article