fbpx

Iceberg Interview Model untuk Merekrut Karyawan Terbaik

Iceberg Interview Model untuk Merekrut Karyawan Terbaik

Iceberg Interview Model untuk Merekrut Karyawan Terbaik 1280 1000 Gardena Puteri Ayudila

Menurut Shahid Wazed, Founder Top Talent Summit dan Forbes Human Resources Council Member and Contributor, hampir semua perusahaan pasti ingin merekrut karyawan terbaik, namun sayangnya mereka hanya melihat keahlian pelamar saja.

Padahal jika melihat faktor keahlian saja, hal tersebut malahan membuat perusahaan sulit untuk mendapatkan karyawan terbaik.

John Sculley, mantan presiden Pepsi dan CEO Apple, pernah menyebutkan jika Steve Jobs adalah pewawancara terbaik yang pernah Ia temui.

“Apakah Anda ingin menjual minuman manis selama sisa hidup Anda? Atau Anda ingin ikut dengan saya dan mengubah dunia?

Jadi pertanyaan berkesan yang selama ini John Sculley pernah dengar, pertanyaan tersebut juga jadi pertanyaan yang membuat John Sculley berpaling ke Apple.

Coba pikirkan tentang pertanyaan Steve Jobs tadi, Jobs seolah memberikan “warisan” berharga kepada John Sculley.  Mungkin pertanyaan semacam ini juga bisa Anda terapkan jika ingin mendapatkan karyawan terbaik.

Untuk merekrut karyawan terbaik, tentunya tak hanya keahlian sang pelamar kerja yang wajib Anda perhatikan. Hal yang sebaiknya HR perhatikan adalah mindset kandidat.

Contohnya apakah sang pelamar ini punya keinginan untuk terus belajar dan mengembangkan keahliannya atau tidak, karena seorang yang punya mindset untuk terus belajar dan berkembang akan membantu perusahaan untuk mencapai kesuksesan.

karyawan terbaik

Ilustrasi, theocm.co.uk

Nah, untuk mendapatkan karyawan terbaik, Anda bisa menggunakan Iceberg Model:

Jika Anda melihat gunung es, apa yang Anda lihat? 20% es berada di atas air dan sisanya 80% di dalam air.  

Anda bisa umpamakan 20% tersebut mewakili keahlian pelamar kerja, 80% lainnya yang berada di bawah air terdiri dari pola pikir dan legacy.

20% untuk menilai keahlian kandidat: Melalui interview atau test project, Anda bisa menilai apakah kandidat yang Anda test punya keahlian untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan baik atau tidak.

40% untuk menilai mindset kandidat: Jika pekerjaan yang dilamar mengharuskan kandidat untuk menciptakan produk atau layanan baru, maka Anda bisa menilai apakah kandidat tersebut memiliki mindset untuk berani mengambil risiko atau tidak, karena untuk membuat produk atau layanan baru kandidat harus berani mengambil risiko.

40% untuk menilai legacy kandidat: Lihat kembali apakah pelamar atau kandidat yang Anda interview bekerja di perusahaan Anda, apakah hanya ingin mendapatkan gaji dan bekerja seadanya atau tidak. 

Sumber: forbes.com

Baca juga:

https://www.sofi.co.id/?utm_source=blog&utm_medium=banner-footer&utm_campaign=article