fbpx

Perihal cuti karyawan sebaiknya diketahui oleh tim HR ataupun karyawan itu sendiri, agar keduanya memiliki pemahaman yang sama dan tentunya tidak ada pihak yang dirugikan.

Ketentuan cuti karyawan sendiri tertuang dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (UU Ketenagakerjaan).

Dalam pasal 79 ayat 2 UU Ketenagakerjaan menetapkan hak cuti karyawan sekurang-kurangnya 12 hari.  

Meski begitu, perusahaan boleh kok menetapkan kebijakan berbeda. Misalkan: memberikan hak cuti lebih banyak dari 12 hari. Asalkan hak cuti karyawan tidak kurang dari 12 hari.

Jenis-jenis Cuti Karyawan

Cuti Tahunan

Pembahasan cuti tahunan sudah disingung di atas, yakni tertuang dalam Pasal 79 ayat 2 yang berbunyi:

“Cuti tahunan sekurang kurangnya 12 hari kerja setelah pekerja/buruh yang bersangkutan bekerja selama 12 bulan secara terus menerus”.

Lalu kapan pekerja bisa mengambil cuti tahunan? Hak cuti tahunan biasanya bisa diambil setelah pekerja bekerja di suatu perusahaan selama 12 bulan terus menerus.

Namun, ada beberapa perusahaan yang memperbolehkan karyawannya untuk mengambil cuti, misalkan setelah melewati masa percobaan selama 3 bulan. Hal ini tergantung perjanjian kerja.

Selanjutnya, saat karyawan mengambil cuti tahunan ini, karyawan berhak mendapatkan upah penuh. Hal ini tertuang dalam Pasal 84 UU Ketenagakerjaan.

cuti karyawan

istockphoto.com

Cuti Penting

Bila Anda ada alasan mendesak atau penting  seperti menikah, mengkhitankan anak, anggota keluarga meninggal dan lainnya, Anda bisa mengambil cuti.

Berikut detail jumlah cuti yang bisa diambil sesuai yang tertuang dalam Pasal 93 ayat 2 dan 4:

  1. Pekerja atau karyawan yang menikah berhak mendapatkan cuti 3 hari
  2. Bila menikahkan anak, maka karyawan berhak dapat cuti 2 hari
  3. Bila karyawan mengkhitankan anaknya, maka berhak dapat cuti 2 hari
  4. Selanjutnya bila membaptiskan anak, berhak dapat cuti 2 hari
  5. Jika isteri melahirkan atau keguguran kandungan, sang suami (pekerja) berhak dapat cuti 2 hari
  6. Suami/isteri, orang tua/mertua atau anak atau menantu meninggal dunia, karyawan dapat cuti 2 hari
  7. Anggota keluarga dalam satu rumah meninggal dunia, berhak dapat cuti 1 hari.

Cuti Bersama

Bila pemerintah mengumumkan ada cuti bersama, jangan keburu senang dulu nih.

Cuti bersama berbeda dengan libur nasional, karena pelaksanaannya mengurangi cuti tahunan Anda.

Pasalnya, ketentuan ini tertuang dalam Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (S Menakertrans).

Jadi, bila karyawan memilih bekerja pada saat cuti bersama, maka cuti tahunannya tidak berkurang. Pembayaran upahnya pun sama dengan bekerja di hari biasa, tidak dihitung sebagai kerja lembur.

Pembahasan tentang upah lembur, bisa Anda lihat di sini ya!

cuti hamil

Cuti Hamil dan Melahirkan

Dalam Pasal 82 Undang-Undang No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dijelaskan, bila pekerja atau karyawan perempuan berhak memperoleh istirahat selama:

  • 1,5 bulan sebelum melahirkan anak
  • 1,5 bulan sesudah melahirkan
  • Bila mengalami keguguran berhak dapat cuti selama 1,5 bulan atau sesuai dengan surat keterangan dokter kandungan atau bidan.

Untuk lebih detailnya mengenai pembahasan cuti hamil dan melahirkan ini, bisa Anda lihat pada artikel ini : Yuk, Pahami Peraturan Cuti Hamil dan Melahirkan Karyawan

Cuti Besar

Bila ada karyawan yang sudah mengabdi selama bertahun-tahun, maka sebaiknya perusahaan memberikan cuti besar.

Hal ini tertuang dalam Pasal 79 ayat 2 (d), yang menyatakan:

“Istirahat panjang sekurang-kurangnya 2 bulan dan dilaksanakan pada tahun ketujuh dan kedelapan masing-masing 1 bulan bagi pekerja/buruh yang telah bekerja selama 6 tahun secara terus-menerus pada perusahaan yang sama dengan ketentuan pekerja/buruh tersebut tidak berhak lagi atas istirahat tahunannya dalam 2 tahun berjalan dan selanjutnya berlaku untuk setiap kelipatan masa kerja 6 tahun”.

Baca juga:

https://www.sofi.co.id/?utm_source=blog&utm_medium=banner-footer&utm_campaign=article